Postingan

Menampilkan postingan dengan label PUISI

Aku Mati Muda Kawan

Aku masih muda, kawan, usia yang seharusnya belajar mencintai hidup dan mimpi, tapi aku harus berpeluh di jalanan, menerobos lampu merah waktu, demi sesuap nasi. Pekerjaanku hanya ojek online, di punggungku menempel harapan keluarga, di genggaman tanganku, setir motor tua, yang tak pernah mengeluh meski diguncang lelah. Aku mati muda, kawan. Tubuhku remuk dilindas mobil polisi, yang lewat begitu saja, meninggalkan sirene panjang, sementara darahku perlahan mengering di aspal hitam jalanan. Aku rakyat kecil, kawan, yang hanya ingin pulang membawa nasi bungkus untuk ibu, yang selalu menungguku di depan pintu dengan doa sederhana: "Ya Allah, lindungi anakku di jalanan yang bengis." Namun malam itu, doa ibuku terhenti di ujung sajadah, saat kabar duka mengetuk jendela rumahnya. Tangannya gemetar, air matanya tak mampu ia bendung, suaranya pecah: “Anakku… mengapa kau pulang terbujur kaku, bukan dengan senyum letih yang biasa kau bawa?” Jangan tanyakan pad...

Melintasi Jiwa dan Semesta

Harapan menjelmakan cahaya di ujung malam, menerangi lorong-lorong gelap jiwa yang sunyi. Cinta, seperti api abadi, menghangatkan setiap hati, membakar sekat yang memisahkan kita dari Ilahi. Kegembiraan menari bersama angin, melahirkan tawa di pelukan waktu. Persahabatan hadir bagai sungai bening, mengalirkan kasih hingga samudera tak berbatas. Namun, kesedihan pun mengajarkan kita arti yang dalam, seperti hujan yang menyuburkan tanah gersang. Pengetahuan menjadi tangga menuju langit kearifan, membuka pintu menuju rahasia terdalam semesta. Kebijaksanaan ialah mutiara yang berkilau di dasar nurani, lahir dari luka, jatuh, dan bangkit kembali. Alam semesta berbicara dalam bahasa asing untuk dipahami, menyanyikan harmoni yang hanya terdengar oleh jiwa yang tenang. Dalam perjalanan ini, diri sendiri adalah cermin, yang memantulkan cahaya Tuhan yang kekal. Maka mendekatlah, wahai jiwa yang rindu, ke dalam pelukan Sang Kekasih Yang Satu.

Riwayat Jiwa

Masa lalu, bayang samar dalam kilas, Gelombang takdir yang pernah melintas, Hadir sebagai bisikan rahasia, Mengantar jiwa menuju cahaya. Hari ini, detak napas semesta, Dalam sunyi, getar suara Tuhan terasa, Aku, debu yang menari di pelataran fana, Mencari makna di lautan sabda. Masa depan, takdir yang menyelimuti, Namun ia bagaikan bayang ilusi, Bagiku hanya kini yang abadi, Sebab jiwa sejati tak kenal tepi. Kefanaan, tirai tipis yang mudah koyak, Mengungkap keabadian di dalam jejak, Dalam kefanaan, kulihat ada-Nya, Dalam lebur, kudapati hakikat cinta. Keabadian, bukan milik waktu yang berlari, Dia ukiran indah di langit hati, Dalam setiap zikir yang membimbing rasa, Kekasih sejati, tak pernah sirna.

Belajar Pada Sunyi

Belajar pada sunyi, mengubur sepi yang tak lagi berwajah. Aku ingin lebih banyak bicara dalam diam yang tak memihak. Ada gema di dasar dada, tak terdengar, hanya terasa. Seperti angin yang menyeberang perlahan, membawa pesan tanpa suara. Diam adalah rumahku kini, tempat kata-kata tak perlu dikejar. Hanya detak, hanya nafas, mengisi celah yang tak terjamah. Sudah itu saja. Tidak lebih, tidak kurang. Karena di sini, sunyi adalah bahasa yang sempurna.

Penjaga Kebun Anggur, Penempuh Jalan Cinta

Aku hanya penjaga kebun anggur ini, Yang menanti dalam sunyi, di bawah langit tak bertepi.  Di sini, dalam detak hati tanpa bunyi, Aku belajar dari bumi yang diam, dan dari angin yang menderu pergi. Tiap anggur kubelai dengan penuh kasih, seperti merawat janji rahasia yang tersembunyi, Anggur-anggur ini adalah doa-doa tanpa suara, mekar di ujung ranting, rindu pada Sang Pencipta. Cinta adalah jalan, tak terucap oleh bibir yang lemah, hanya jiwa yang berani yang sanggup berjalan pasrah, Di jalan ini, luka bukanlah musuh atau lawan, namun guru, yang mengubah derita menjadi ucapan kesyukuran. Kupetik setiap buah dengan hati bergetar,

"Nyanyian di Tepi Telaga"

Jalan di tepi telaga Ada bunga sekuntum kembang mekar dalam warna cinta  Di sentuh cahaya mentari pagi indah merona Ada gelisah menyelinap di ranting rapuh pohon tua pinggir jalan Tentang taqdir yang akan datang mengambil segalanya  Ada terdengar nyanyian namun perlahan terus melemah

Gaza

anak-anak Palestin berlari dalam kobaran api membara di depannya serdadu-serdadu israel siap dengan sangkur terhunus gelegar bom dan dentum meriam anak-anak Palestin berteriak "kami tidak takut" lalu terdengar seratus tembakan seratus jiwa terangkat ke surga dan satu milyar hati terluka membakar kemarahan di penjuru kota-kota yang jauh takbir bergema dari Indonesia di timur hingga Maroko di barat berteriak dengan suara yang sama selamatkan anak-anak Palestin Alas, 22 Nop. 2012

Taman Sang Kekasih

Dari rindu yang subur Aku ciptakan taman bagi sang kekasih Yang bunganya adalah cinta dalam berbagai warna Di setiap malam Sang kekasih datang menemuiku di taman itu Aku seperti kupu kupu dalam tarian Rumi Yang mendendangkan nyanyian cinta dari Daud Dengan Dia aku melihat Ruang ruang terindah dari sepi Yang tak terlukiskan oleh mimpi sekali pun

Malam 13-1-1437

jiwaku di batas gelap antara ada dan tiada di arus waktu kini dan entah kapan kenangan dan harapan terbit menjadi mimpi yang samar aku di sebuah perjalanan mencari hakekat kesejatian denting-denting lonceng di detak jantung terus berbunyi mengalirkan cahaya pada seluruh sel hidupku dalam irama sunyi yang luput aku ingin bangkit dalam putaran melawan arah jarum jam dan melihat wujud fitrah yang menuntun

AKU TAKUT

aku takut pada hari ketika keadilan tuhan ditegakkan sedang aku datang dengan dosa-dosa berbuat zolim pada orang lain dengan menghakimi mereka  tanpa dasar kebenaran menyakiti orang yang meminta pertolongan dengan muka masam mengabaikan hak orang lain dengan mementingkan diri sendiri menuduh orang baik-baik dengan fitnah yang keji berlaku dusta di hadapan manusia dalam bersaksi meninggalkan kewajiban pada orang-orang yang berada dalam tanggungan khianat pada amanah yang  dipercayakan berlaku tidak adil pada diri sendiri dengan mengabaikan kebenaran dan mengikuti hawa nafsu  aku takut pada hari ketika semua rahasia terbuka jika bukan karena rahmat dan ampunanMu maka sungguh aku termasuk orang-orang yang celaka

Taman Kecil Di Hatiku

ada kolam teratai ada bunga mawar yang harum ada kicau burung dari surga ada pandanganmu yang terus mengawasi taman kecil di hatiku jadi kau semesta cinta yang menghembuskan napas fitrah kehidupan yang mengalir dalam sunyi lalu menjelma menjadi cahaya yang dibiaskan oleh titik air menjadi garis-garis warna yang indah

Cawan Suci

pengelana dan debu gurun matahari dan batu yang terbakar adalah batas antara harapan dan keputusaan diantara peluh kuda beban dan kulit keriput yang mengering ini adalah perjalanan mencari cawan suci yang setiap tetes airnya adalah keabadian

Sang Pelayan

Maka perhatikanlah wahai anakku Sesungguhnya hidup adalah melayani Lihatlah mawar yang mekar di pagi hari menyediakan madu bagi lebah Dan para pedagang di pasar-pasar melayani para pembeli Semua tangan kehidupan adalah pelayan Penguasa yang baik adalah pelayan bagi rakyatnya Semua orang tua adalah pelayan bagi anak-anaknya Alam semesta diciptakan untuk sebuah pelayanan Karena itu tuhan sendiri tak segan melayani kebutuhan mahluknya Maka carilah taqdirmu untuk menjadi pelayan wahai anakku Karena yang terbaik dari kita adalah yang terbaik dalam melayani orang lain

Tanpa Judul

setengah bayangan seribu titik sunyi  aku lagu rindu yang bergetar di dawai biola  jiwaku kolam purba tempat cinta bermain  bila nanti aku bangkit kembali dari tidur yang panjang  yang pertama ku sebut adalah namamu  oh kekasih  aku tak tahu berapa besar kekuatan kata-kata  yang dengannya aku melukis rasa 

Selamat Pagi Kekasih

Sayang ...........!  aku masih menyukai pagi seperti masa lalu  menghirup harum melati yang semerbak di halaman  dan tenggelam di titik embun yang bening pagi hari  aku masih suka bicara tentang pajar dan harapan  tentang cinta dan goresan kepedihan yang ia berikan  aku masih ingin hidup meskipun kadang penuh kesulitan  cita-citaku tertulis masih panjang  aku ingin mengajakmu berjalan di antara puing-puing harapan orang-orang tertindas dan dengan cinta merekatkan kembali harapan mereka agar tak menjadi debu di kaki orang-orang yang berkuasa aku masih disini mengajar hatiku sendiri untuk lebih peka mengenali kebenaran melihat cinta dalam warna yang lebih agung dan membiarkan diriku menjadi milik banyak orang melawan ketidakadilan meskipun hanya dengan hati

Kita Tak Jauh Dari Bencana

bila kita biarkan para penipu menjadi pemimpin  yang dengan manis menjanjikan kesejahteraan  tapi pada setiap jengkal tanah yang kau pijak mereka mengambil apa yang menjadi hak kalian  bila kita biarkan saja mereka seperti itu  maka tunggulah waktu  sebab kita tak jauh dari bencana

Kemana lagi sepi akan pergi

Ketika malam turun di hatiku Menutup gelap waktu Dengan seribu cadar dari debu dan angin Ke mana lagi sepi akan pergi Ketika cahaya senja pecah di laut  Dan jatuh di atas perahu asing   Lalu tenggelam bersama bulan tua di langit  Kekasih jiwa berbisiklah di hatiku Ke mana lagi sepi akan pergi Bukit Alas, 4 Oktober 2012 ROH IBLIS MENGGENGGAM JANTUNG KEKUASAAN MEREKA TAK PUNYA HATI UNTUK MELIHAT DAN MENDENGAR SEDANGKAN KITA HANYA DISATUKAN OLEH CINTA YANG LEMAH KETIKA KAU BERTERIAK MENGACUNGKAN PEDANG MEMBELA KAUM TERTINDAS AKU TERJEPIT DIANTARA KAOS SEPATU MEWAH DAN SENYUMAN PENUH TIPU DAYA AKU INGIN PUNYA SUARA LANTANG SEPERTI PETIR YANG DENGAN SATU PEKIKAN DAPAT MEROBOHKAN KEANGKUHAN PENGHISAP HIDUP KAUM LEMAH   Almufarridun Yang setia dalam  ingat Ketika duduk, berdiri dan berbaring Yang hatinya senantiasa tertaut pada mihrab dan gafura langit Dia Almufarridun penempuh jalan asing Laki-laki dan perempuan ...

Bunga Rampai

SELEMBAR KAIN BENDERA sepanjang tahun terlipat rapi di almari  berdebu kusam dalam waktu  setahun sekali terpajang berkibar di halaman depan  hanya selembar kain bendera anakku  setiap jahitannya adalah kisah tentang sebuah bangsa  tentang patriotisme dan kepahlawanan  tentang kebanggan dan harga diri  yang tertera dalam warna merah putih  hanya selembar kain bendera anakku  yang telah dipertahankan dengan darah dan jiwa  oleh orang-orang terdahulu yang perwira  dalam hening cipta hari ini aku tunduk dalam renungan  adakah ia masih bermakna di hati para penyelenggara negara  yang saban hari menghianati kepercayaan rakyat  dan bangga menjadi pendusta  yang gagah bicara di koran-koran dan televisi  bahwa mereka telah sempurna berjasa  memerangi kemiskinan dan kebodohan  padahal pada saat mereka bicara  puluhan ribu perempuan mulia bangsamu teraniaya d...

TAK ADA JUDUL

aku serangga yang terperangkap di bening kaca jendela melihat keluar padang luas tanpa daya aku ingin bebas seperti rajawali terbang mengarungi angkasa dan hinggap di dahan pohon tertinggi aku jiwa yang terus melangkah diantara kecemasan dan harapan mencintaimu dengan cinta yang asing aku burung malam yang setia nyanyikan rindu ketika yang lain lelap tertidur aku ikan yang tak pernah lelah berenang mencari lautan dan aku adalah puisi yang tak pernah selesai dibacakan oleh pengembara yang rindu kampung halamannya

RINDU

ada rindu yang tak semestinya menderu di sisa paruh waktuku bergolak riuh mendayuh mengusik sunyi kalbu seperti gemuruh di musim panjang yang jauh tentangmu segala rasa menyatu seperti menahan waktu enggan berlalu